top of page

Manajemen Reputasi Dexa Group yang Konsisten Meraih Indonesia Public Relations Awards ke-8

30 Jan
2 menit membaca

Meraih penghargaan selama delapan kali berturut-turut, Dexa Group menunjukkan konsistensi jangka panjang dalam membangun kepercayaan publik. Komitmen ini sekali lagi mengantarkan Dexa Group menerima Indonesia Public Relations Awards (IPRA) 2026 dengan predikat Best Public Relations 2026 in Public Trust Building through Ethical Pharmaceutical Practices.


Penghargaan ini menegaskan konsistensi Dexa Group dalam menjaga reputasi korporasi melalui praktik komunikasi yang strategis, etis, dan berkelanjutan, sejalan dengan nilai-nilai perusahaan dan dinamika industri farmasi yang semakin kompleks.


Penghargaan diserahkan langsung oleh CEO Warta Ekonomi, M. Ihsan, didampingi oleh Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI), Ibu Sari Soegondo, kepada Head of Corporate Communications Dexa Group, Bapak Sonny Himawan, serta disaksikan oleh Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital, Ibu Fifi Aleyda Yahya, di kawasan Senayan, Jakarta, pada Rabu (28/1/2026).


Bapak M. Ihsan menjelaskan bahwa proses penilaian dilakukan secara menyeluruh melalui pemantauan media terhadap 216 perusahaan, dengan riset mencakup 60 media terkemuka. Beliau menambahkan bahwa penerima penghargaan mencatatkan sentimen media negatif di bawah 10 persen. Hal ini mencerminkan keberhasilan manajemen reputasi yang konsisten dan terukur.


Peran Komunikasi Korporat dalam Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

Di tengah disrupsi digital dan pesatnya perkembangan Kecerdasan Buatan (AI), peran public relations (PR) menjadi semakin krusial. Ibu Sari Soegondo menekankan bahwa arus informasi kini bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, bahkan dalam hitungan menit, menuntut organisasi untuk lebih adaptif dan responsif.


“Kita hidup di era ketika informasi tidak lagi bergerak—tetapi melesat. Dalam hitungan detik, sebuah pesan dapat menjangkau jutaan orang. Dalam hitungan jam, reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa lenyap,” ujarnya.


Ibu Sari menyoroti bahwa tantangan seperti misinformasi, disinformasi, polarisasi opini, dan krisis reputasi dapat muncul tanpa peringatan serta berdampak langsung pada kepercayaan publik. Oleh karena itu, PR tidak lagi sekadar pembawa pesan, melainkan berfungsi sebagai garda terdepan dalam menjaga kredibilitas dan integritas organisasi.


“Publik tidak hanya menilai apa yang dikomunikasikan organisasi, tetapi juga bagaimana cara dikomunikasikannya, seberapa konsisten pesannya, dan apakah tindakannya sejalan dengan komunikasinya. Kepercayaan adalah aset paling berharga, yang dibangun melalui konsistensi dan komitmen, namun dapat ternoda dalam sekejap dan tidak mudah dipulihkan,” lanjutnya.


Senada dengan pandangan tersebut, Ibu Fifi Aleyda Yahya menyoroti peran teknologi dalam lanskap komunikasi saat ini. Menurutnya, meski AI berkembang pesat dan mampu menghasilkan konten, teknologi tidak dapat menciptakan kepercayaan yang hakiki.


Ibu Fifi menambahkan bahwa kerja humas sering kali "sunyi" karena dilakukan di balik layar, namun memainkan peran kritis dalam menjaga reputasi, merawat kepercayaan, dan menenangkan situasi di tengah ruang publik yang semakin riuh. “Komunikasi publik adalah jembatan kepercayaan antara negara dan masyarakat,” pungkasnya.


Bagi Dexa Group, penghargaan ini bukan sekadar pengakuan eksternal, melainkan cerminan dari upaya kolektif seluruh insan Dexa dalam menjaga reputasi perusahaan.


Menurut Head of Corporate Communications Dexa Group, Bapak Sonny Himawan, di tengah meningkatnya risiko hoaks dan disinformasi—yang berdasarkan data Komdigi meningkat signifikan sepanjang tahun 2025—peran public relations menjadi semakin strategis dalam memastikan komunikasi yang akurat, bertanggung jawab, dan sejalan dengan tujuan perusahaan.


“Pencapaian ini memperkuat komitmen Dexa Group untuk terus memprioritaskan komunikasi strategis sebagai landasan kepercayaan publik dan sebagai bagian integral dari strategi keberlanjutan perusahaan. Kepercayaan tidak dibangun hanya melalui kampanye, melainkan melalui keputusan yang tepat, komunikasi yang jujur, dan praktik etis yang dijalankan secara konsisten setiap hari,” jelas Bapak Sonny.

bottom of page