Delapan belas tahun lalu, PT Ferron Par Pharmaceuticals pertama kali mengirimkan produk farmasi Indonesia ke pasar Eropa. Kamis (4/6/2026), kontainer ekspor ke-150 resmi dilepas dari fasilitas produksi Ferron di Cikarang, Jawa Barat, oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D.
Angka 150 mencerminkan konsistensi yang dibangun selama 18 tahun dalam memenuhi standar regulasi dan mutu internasional.
BPOM RI telah meraih status World Health Organization Listed Authority (WLA), pengakuan WHO terhadap otoritas regulatori yang memiliki sistem pengawasan obat berstandar internasional. Dengan status tersebut, Indonesia masuk dalam jaringan global WLA yang mencakup 41 otoritas regulator dari 39 negara. Status ini memperkuat kredibilitas sistem regulasi Indonesia dan menjadi modal kepercayaan bagi industri farmasi nasional di pasar global.
Usai pelepasan ekspor ke-150 produk berteknologi tinggi Metformin Sustained Release (SR), Prof. dr. Taruna Ikrar menegaskan beberapa poin penting terkait pelepasan ekspor obat esensial ke Eropa, khususnya ke Polandia.
“Pertama, bahwa Indonesia bukan hanya sekedar pengimpor tapi bangsa ini sudah mampu mengekspor bukan hanya ke negara-negara tetangga tetapi menembus pasar Eropa. Yang kedua, ini akan berdampak kepada ekonomi nasional kita dalam bentuk devisa negara. Kemudian yang ketiga, manfaat yang ekspor ke negara Eropa, ke luar negeri bermanifestasi menunjukkan bahwa kepercayaan publik di dunia internasional terhadap produk Indonesia tentu semakin tinggi. Ini tidak lepas dari peran Badan POM yang telah mendapatkan WHO Listed Authority atau WLA sebagai reputasi tertinggi regulator di dunia,” jelas Prof. dr. Taruna.
Pihaknya berharap bahwa upaya ini menjadi langkah yang baik untuk menembus pasar global lainnya seperti negara-negara Timur Tengah atau negara-negara di Arab, dan negara-negara di Amerika Selatan dan Amerika Serikat.
*“Bagaimana kita meningkatkan daya saing adalah pertama-tama meningkatkan reputasi. Kalau kita tersertifikasi oleh lembaga internasional. Kita sudah mendapatkan WLA. Kita setingkat dengan Amerika, Eropa. Strategi kedua, BPOM akan memberikan berbagai macam insentif, misal mempercepat sertifikat tanpa mengurangi kualitas. CPOB, karena kita sudah miliki tim asesor yang sangat berkualitas,” kata Prof. dr. Taruna.
Lebih lanjut Prof. dr. Taruna mengatakan bahwa Indonesia berada pada fase penting untuk memperkuat peran sebagai produsen produk kesehatan berkualitas global, sekaligus dukungan BPOM terkait supply chain di industri farmasi, termasuk bahan baku.*
“Strategi yang kita lakukan, kita buatkan aturan kemudahan kepada industri mulai dari supply chain; dari China, Eropa. Kedua, kita meningkatkan yang kita tahu bahan baku obat memiliki sumber daya alam. Luar biasa, kalau kita punya sumber daya alam. Kita berikan insentif ke industri yang bisa ekstraksi bahan alam, dan ketiga meningkatkan jumlah uji klinis karena setiap paten punya intelektual properti, supaya kita masuk ke pemilik paten itu, kita bantu uji klinisnya,” papar Prof. dr. Taruna.

Data Kementerian Perindustrian RI mencatat nilai ekspor industri farmasi dan obat bahan alam Indonesia mencapai USD 639,42 juta pada periode Januari hingga September 2024. Status WLA BPOM RI memperkuat kepercayaan pasar internasional terhadap industri farmasi nasional.
PT Ferron Par Pharmaceuticals, perusahaan bagian dari Dexa Group, menjadi salah satu contoh konkret kemampuan industri farmasi Indonesia dalam memenuhi standar pasar global. Fasilitas produksi Ferron di Cikarang telah memperoleh sertifikasi UK-MHRA dan EU-GMP, dua standar penting dalam industri farmasi internasional. Sertifikasi tersebut menjadi dasar kepercayaan bagi keberlanjutan ekspor Ferron ke Eropa selama hampir dua dekade.
Direktur Utama PT Ferron Par Pharmaceuticals, Bapak Benny Sutisna Suwarno, mengatakan keberangkatan kontainer ke-150 merupakan hasil dari disiplin mutu yang dijaga secara konsisten dan dukungan BPOM RI dalam membina industri farmasi nasional.
“Ferron saat ini 23 tahun. Selama 23 tahun berkiprah banyak pencapaian, salah satunya sudah 18 tahun tersertifikasi internasional. Sejak 2008 terus menerus mengirimkan produknya ke Eropa. Ini membuktikan bahwa kualitas yang dibangun oleh anak bangsa tidak kalah dengan kualitas multinational company yang lain atau negara-negara maju yang lain. Ini tidak terlepas juga dari dukungan dari Badan POM yang telah melakukan pengawasan, pembinaan, dan melakukan support yang diperlukan bagi kami industri farmasi. Semua ini bisa dikatakan sebuah bukti nyata bahwa sinergi antara Ferron dan BPOM menuju sukses global, bukan hanya angan-angan tetapi menjadi suatu kenyataan dengan dikirimnya kontainer yang ke-150 untuk menuju ke Eropa,” terang Bapak Benny.
Kontainer ke-150 yang bertolak dari Cikarang membawa obat diabetes produksi Indonesia menuju Inggris, Belanda, dan Polandia. Perjalanan itu adalah cerminan dari 18 tahun konsistensi industri farmasi Indonesia dalam memenuhi standar mutu dan kepatuhan regulasi pasar global.

