Mohon diperhatikan

Karena lonjakan kasus Covid-19 baru-baru ini, kami tidak lagi dapat melayani kunjungan langsung ke kantor pusat atau fasilitas kami.

Agustus 23, 2021, 02.20 pm

Pemerintah Apresiasi Implementasi Industri 4.0 oleh Dexa Group

Hide all tags

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus meningkatkan daya saing industri nasional melalui transformasi menuju industri 4.0. Berkaitan dengan upaya tersebut, sebagai perusahaan farmasi terkemuka Indonesia bertaraf internasional, Dexa Group telah mengimplementasikan industri 4.0 dalam proses produksi hingga distribusi.

Presiden Direktur PT Ferron Par Pharmaceuticals, Bapak Krestijanto Pandji, menyatakan bahwa perusahaan yang mampu bertahan di era industri 4.0 adalah yang mampu meningkatkan daya saing. Hal terpenting dari meningkatkan daya saing adalah efisiensi.

“Dunia farmasi yang paling penting adalah kita mempunyai kontrol, karena kalau kita tidak mempunyai kontrol (bisa jadi) berbahaya. Kontrol penting untuk menghasilkan produk berkualitas,” kata Bapak Krestijanto dalam rangkaian acara Indonesia 4.0 Conference & Expo 2021 yang digelar secara daring, Jumat (20/8/2021).

Ferron yang merupakan bagian dari Dexa Group telah menerapkan 8 implementasi industri 4.0 dalam proses produksi hingga distribusi. Kedelapan implementasi itu yakni Robotic Automation, Internet of Things, Building Management System (BAS), Electronic Batch Record / Machine Execution System, Laboratory Information Management System (LIMS), Warehouse Management System, Green Facility, dan Enterprise Asset Management.

“Tujuan kita apa melakukan Robotic Automation? Nomor satu bahwa kita akan meng-optimize human machine interface, kita akan alihkan ke mesin tetapi human tetap akan mengontrol ini. Kita akan menggunakan bahwa manusia akan berfungsi menganalisa data-data oleh robot-robot. Kedua adalah standarization di dunia farmasi makin lama makin ketat, sehingga kita mengharuskan yang namanya zero fault, sehingga kita harus lakukan automation,” papar Bapak Krestijanto.

Penggunaan otomasi robotik juga meningkatkan kualitas, karena setiap sediaan yang diproduksi menghasilkan produk yang konsisten. Kemudian mengenai Electronic Batch Record, Dexa Group telah mengaplikasikan 2D barcode yang bisa dilacak secara real time.

“Terkait barcode, di AS dan Eropa adalah sebuah keharusan. Karena kami mengekspor produk ke AS dan Eropa, sehingga kami telah menerapkannya,” imbuh Bapak Krestijanto.

Ferron juga telah mengaplikasikan Green Facility yang salah satunya baru saja turut diresmikan oleh Kementerian Perindustrian yakni Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di site Cikarang. PLTS yang diaplikasikan di fasilitas produksi Ferron adalah yang terbesar di Jawa Barat.

Senada dengan Bapak Krestijanto, VP Digital & Information Technology PT Biofarma, Bapak Ervan Belyadi Suryadi juga menekankan pentingnya pengaplikasian teknologi informasi. PT Biofarma yang merupakan holding BUMN farmasi menerapkan 2D barcode untuk melacak distribusi vaksinasi Covid-19.

“Seperti kata Pak Krestijanto Pandji tadi, dengan 2D barcode ini kita bisa mengetahui di mana letak dari obat tersebut,” ungkap Bapak Ervan.

Apresiasi Pemerintah

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mengapresiasi kesiapan dan implementasi industri 4.0 di perusahaan farmasi. Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Kemenperin, Bapak Muhammad Taufiq mengungkapkan revolusi industri 4.0 merupakan lompatan besar bagi industri farmasi.

“Kesiapan kita, khususnya di bawah ruang lingkup kami di industri farmasi, rata-rata kesiapannya di angka 3 ke atas. Sehingga ini artinya, industri farmasi sudah siap melakukan transformasi INDI 4.0. Industri farmasi ini sudah melakukan otomasi dan robotik, kedua adalah barcode, ini sudah menunjukkan salah satu indikasi,” ungkap Bapak Taufiq seraya memberikan apresiasi kepada industri farmasi yang telah menerapkan otomasi robotik dan sistem barcode.

Industri farmasi yang merupakan bagian dari sistem kesehatan, kata Bapak Taufiq, saat ini masih bersifat parsial dengan fasilitas kesehatan. Pemerintah berharap nantinya Indonesia bisa menerapkan sistem “one patient, one record”. Untuk itu dibutuhkan 1 basis data maupun platform yang seragam dan diterapkan oleh sistem kesehatan di Indonesia.

Menanggapi tantangan ini, Bapak Krestijanto kemudian memaparkan implementasi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan di Dexa Group untuk melakukan prediksi berbasis data yang tersimpan dalam sistem cloud. “Kami siap dan juga sudah kami implementasikan,” ungkap Bapak Krestijanto.